Hay Sob apa kabar ? berjumpa lagi di artikel yang selalu menyajikan informasi lengkap tentang obyek wisata. Ya Pulau Bali adalah suatu daerah yang menjadi tujuan utama wisatawan untuk melakukan liburan mereka. Tak tangggung-tanggung, wisatawan yang datang tak hanya dari Indonesia saja bahkan tak sedikit juga dari mancanegara hlo.
Suatu sebuah alasan karena daerah Bali memiliki destinasi wisata yang beragam, unik dan juga lengkap dengan apa yang diinginkan oleh setiap pengunjungnya. Serasa setiap wisatawan yang pernah berkunjung tak pernah bosan untuk mengunjunginya kembali, dengan alasan bahwa Bali adalah surga kecil yang pernah ada di Dunia.

Ingin liburan ke Bali tapi tidak ke pantainya ? Nah, ini merupakan pertanyaan yang pas untuk membahas obyek wisata di halaman ini. Pembahasan tempat wisata kali ini akan mengenai Perang Ketupat di Kabupaten Badung. Sedikit aneh, tapi perang ini sungguh nyata dan malah dijadikan sebagai sebuah tradisi di Bali hlo Guys.

Tradisi Unik Upacara Perang Ketupat atau bernama lain “Aci Rah Pengangon” adalah salah satu dari banyaknya tradisi adat budaya Umat Hindu di Bali yang tergolong unik dan menarik. Tradisi yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya merupakan warisan leluhur yang masih terus dilaksanakan secara turun temurun dari generasi penerus sampai saat ini.
Adapun sejarah tentang Upacara Perang Ketupat yang mana pertama kali diadakan sekitar abad 13 Masehi atau di tahun 1970-an. Pelaksanaa Upacara Perang Ketupat ini di diawali dengan melakukan upacara sembahyang bersama-sama oleh seluruh warga desa di sebuah pura setempat. Selesai melakukan sembahyang tersebut, peserta menyiapkan senjata yang berupa ketupat.
Ketupat-ketupat yang jumlahnya ribuan ini merupakan hasil sumbangan dari seluruh warga di Desa Kapal. Para peserta upacara Perang Ketupat kesemuanya adalah laki-laki yang mana di bagi menjadi dua kelompok dan saling berhadapan satu sama lain. Setelah semuanya dirasa sudah siap, jalanan yang ada di depan pura akan ditutup kurang lebihnya selama 30 menit – 1 jam untuk acara Perang Ketupat.
Masing-masing dari peserta perang mempersenjatai diri mereka dengan sejumlah ketupat. Begitu perang dinyatakan mulai, kedua kelompok tersebut saling menyerang kubu lawan dengan cara melemparkan ketupat ke arah “lawan”. Didalam atraksi Perang Ketupat tidak ada aturan khusus, semua peserta bebas melempar ke arah mana pun di kubu lawan.
Setelah Perang Ketupat usai, semua peserta yang mana dari warga Desa Kapal akan saling tertawa ria sembari bercerita dan diakhiri dengan saling berjabat tangan, berpelukan dan tidak ada dendam.
Lokasi diselenggarakannya Tradisi Perang Ketupat :
No comments:
Post a Comment